Sumpah Pemuda
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Begitulah bunyi sumpah pemuda yang pada 81 tahun yang lalu di bacakan oleh para pemuda-dan pemudi indonesia pada rapat kongres pemuda.
Namun kini 3 sumpah diatas sudah sangat jarang kita dengar,kalaupun ada biasanya hanya pada sekolah tingkat SD dan SMP yang hanya sebagai seremonial belaka. Kalau ada yang membacanya pun, mungkin juga tanpa pemahaman. Bukan tanpa sebab saya menganalisa hal tersebut.
Mungkin ada baiknya kita tengok apa yang terjadi dewasa ini pada kalangan pemuda indonesia. Sepetinya sangat bertolak belakang dengan 3 sumpah diatas.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Sebuah pengakuan yang sakral akan tanah yang di pijak, dimana tempat pengucap sumpah dilahirkan bahkan mungkin tempat dimana mereka juga di kebumikan. Sangat bertolak belakang dengan apa yang melanda kaum pemuda saat ini, kita tengok kasus tentang pendidikan.
Di saat masih banyak tempat menuntut ilmu yang tergolong baik di negeri ini namun masih banyak juga yang rela berjauh-jauh menimba ilmu di luar negeri. Di saat dulu para pemuda berani menyabung nyawa untuk sekedar bumi pertiwi tak hilang sejengkal pun, namun kini 2 pulau terluar di perbatasan Kalimantan dan Serawak sudah jatuh ke negeri tetangga.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Sumpah yang kedua ini pun tak kalah sakralnya dengan yang pertama, sebuah perasaan bangga sebagai bangsa Indonesia begitu menyala di dada para pemuda dulu. Namun kini yang terjadi sungguh bertolak belakang dengan 81 tahun silam.
Kebanggan sebagai bangsa Indonesia sepertinya hanya ungkapan lisan semata, tak ada langkah yang aktif untuk mewujudkannya.
Jika dengan masih memakai produk dari bangsa kapital dan juga dengan masih membanggakan ijasah keluaran kampus ternama di negeri seberang apakah ini yang dinamakan bangga sebagai bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pada sumpah ke tiga ini para pemuda dulu tahu dan yakin hanya bahasa Indonesia yang bisa mempersatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Mereka rela sejenak melupakan kedaerahan masing-masing demi terciptanya persatuan indonesia.
Namun kini, bahasa asing sudah menjajah dan meracuni rakyat Indonesia khususnya pemuda.
Seakan-akan jika tak menggunakan bahasa tersebut maka seseorang di katakan kurang terpelajar atau bahkan kurang gaul,sungguh menyedihkan!
Saya pribadi tidak bisa memungkiri bahwasannya penguasaan bahasa asing sangat perlu dewasa ini. Namun bukan berarti bahasa tersebut di pakai dalam keseharian kita hingga menggantikan bahasa asli, bukan sama sekali!
Biarlah bahasa indonesia tetap menjadi bahasa utama, dan biarkan juga bahasa asing sebagai pencapaian prestasi tanpa embel-embel mengakuisisi bahasa Indonesia.
Salam Sumpah Pemuda
Merdeka!


Sebenarnya fenomena belajar di luar negeri ini bisa dimaklumi. Memang ada beberapa cabang keahlian ilmu spesifik yang belum ada sekolahnya di Indonesia. Atau ada juga yang sudah tersedia, tapi kompetensi perguruan tinggi tersebut belum diakui secara internasional.
Lagipula dengan bersekolah di luar negeri, kita bisa mempelajari cara berpikir dan cara kerja bangsa lain, serta menarik manfaat positif untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.
mungkin sumpah pemuda, jika ada edisi revisinya untuk zaman ini berbunyi :
kami pemuda pemudi indonesia, siap mengibarkan bendera, citra dan nama bangsa ditengah percaturan dunia internasional ! (kepanjangan ya ?)
merdeka !!
Bagi blogger Indonesia, haiyo lebih sumangat, jangan kalah sama semangate sumpah Pemuda 28 itu ya mas?
semoga roh dan semangat sumpah pemuda terus terpatri dari generasdi ke generasi agar bangsa yang besar ini tak gampang tercerai-berai.
bahasa indonesia yg campur aduk dengan istilah asing salah institusi yg berkontribusi adalah televisi. padahal siaran tv sangat gampang dinikmati oleh masyarakat kita
jika para pemuda dan pemudi itu masih hidup, pasti deh pada nangis-nangis liat persatuan sekarang
merasa bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia haruslah ditanamkan lekat2 ke dalam jiwa para pemuda, agar apapun yang akan dilakukan nantinya merupakan wujud rasa cinta terhadap bangsa Indonesia..
Cara Membuat Website